cara menceraikan suami yang tidak mau diceraikan

apa kamu sedang memiliki permasalahan dengan suami dalam rumah tangga sehingga memiliki niat untuk mengakhiri hubungan rumah tangga yaitu bercerai ? apa kamu sedang kebingungan karena suami tidak mau untuk di ceraikan dan mempertahankan rumah tangga sehingga menjadikan masalah baru untuk kami?

kami di sini akan membahas tentang cara menceraikan suami yang tidak mau diceraikan dan malah mengacam kepada istri.

cara menceraikan suami yang tidak mau diceraikan

dalam hal peceraian sendiri di atur dalam peraturan atau hukum yang belaku, sehingga bila seorang istri ingin cerai akan tetapi suami tidak mau itu bisa di lakukan akan tetapi harus memiliki alasan yang jelas dan sesuai dengan hukum, adapun alasan-alasa perceraian yang dapat di jadikan walaupun suami tidak mau untuk bercerai itu sebagai berikut :

Perkawinan dapat putus karena : a. kematian, b. perceraian dan
c. atas keputusan Pengadilan

( Pasal 38 Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan , untuk selanjutnya disingkat UU No.1/1974 ) .

Selanjutnya pasal 39 UU.No.1/1974 menyebutkan :

  1. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

  2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri.

  3. Tatacara perceraian di depan siding Pengadilan diatur dalam peraturan perundangan tersendiri.

Dalam penjelasan pasal 39 UU.No.1/1974 jo. Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tersebut dijelaskan bahwa alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian adalah :

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf a UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (a) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam) .
  2. Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 ( dua ) tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain dan tanpa ada alasan yang sah atau karena ada hal yang lain di luar kemampuannya ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf b UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (b) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (b) Kompilasi Hukum Islam).
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 ( lima ) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf c UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (c) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (c) Kompilasi Hukum Islam).
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak yang lain ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf d UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (d) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (d) Kompilasi Hukum Islam).
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kwajibannya sebagai suami/istri ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf e UU.No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (e) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (e) Kompilasi Hukum Islam).
  6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga ( penjelasan pasal 39 ayat (2) huruf f No. 1/1974 jo. Pasal 19 huruf (f) PP.No.9/1975 jo. Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam).

itulah yang perlu di perhatikan dalah hal bila ingin menceraikan suami yang tidak mau diceraikan karena ada hukum yang mengatur. bila kamu ingin konsultasi bisa hubungi kami menggunakan layanan konsultasi hukum online yang kami sediakan, selain konsultasi kami juga membuka layanan penangan kasus perceraian.